
Tampaknya kini, kemerdekaan universal yang tersenandung dalam diri anak manusia telah terpelanting ke dalam gelombang dahsyat mesin-mesin raksasa cybersociety dan cyberspace serta cyber digitalisasi. Menurut Sihitoang (2018) bahwa hanya orang yang mampu memilah informasi di antara aneka virus informasi yang menggelegar di tengah masyarakat kontemporer, yang mampu bertahan hidup. Sementara mereka yang tidak cerdas selektif berkomunikasi dan enggan melakukan filterisasi informasi, sudah pasti akan terhempas oleh gelombang digitalisasi. Hanya dengan kesadaran telaah kritis reflektif dan kecerdasan inteleksi (Intelektual Spritual) yang bisa membuat kaum milenial mampu mempertahankan eksistensinya di tengah simulasi post truth dengan berbagai ketimpangan sosialnya. Strategi literasi sebagai upaya penyelamatan kaum milenial beserta penghuni masyarakat kontemporer, harus didasarkan dengan paradigma literasi kritis berbasis IESQ Power. Pasalnya, proses penyelenggaraan literasi kritis berbasis kapitalis yang selama ini berlangsung, adalah tidak hanya berimplikasi sosial pada konteks demoralisasi, dehumanisasi dan vandalisme. Akan tetapi, juga belum mampu membuahkan ESQ Power dimaksud Ary Ginanjar Agustian, multiple intelligences dimaksud Gardner dan great people dalam bayangan Utoyo. Ketika artificial intellegence serta aneka bentuk cybercrime, cyber bullying dan cyber pornoisme sebagai potret hipersimulacrum dan hiperrealitas dibiarkan terus mengapung, maka menurut Alvin Toffler bahwa manusia kontemporer akan terjebak dalam ruang information overload dan bahkan bisa jadi lebih parah dari kondisi itu. Sedangkan Yuval Noah Harari menandaskan bahwa manusia sedang menuju kehancurannya dan manusia sendirilah yang menjadi sumber kehancuran dirinya dan sekaligus menjadi sumber petaka bagi makhluk hidup lainnya.
Page Count:
206
Publication Date:
1900-01-01
ISBN-10:
6234662153
ISBN-13:
9786234662153
No comments yet. Be the first to share your thoughts!