
Ketika eksistensi desa dan perdesaan disorot dari empat macam mainstream of thought sepertinya terlihat perbedaan konseptual, namun sesungguhnya menunjukkan makna konseptual yang hampir sama. Pertama, masyarakat desa diibaratkan semacam fosil oleh kaum antropolog sebagai budaya masa lalu yang tertinggal karena mengalami cultural lag dalam proses evolusi masyarakat. Kedua, eksistensi desa dan perdesaan dalam kerangka dikotomi dasar “tradisional/mekanik” versus “modern/organik” menurut tradisi Durkheim serta desa sebagai sesuatu yang menampati “posisi part society with part culture dalam pandangan Krober. Demikian pula menurut Refield yang terkenal dengan istilah part segment. Ketiga, namun ketika eksistensi desa disorot dari pendekatan Marxian menurut kerangka hubungan kekuasaan (power relations) dalam konteks analisis kelas. Maka masyarakat desa masa kini dianggap sebagai sisa-sisa formasi sosial masa lalu (masyarakat pra-kapitalis) sebagai kelas yang tereksploitir dalam keseluruhan struktur kekuasaan yang ada. Keempat, akhirnya menurut kaum neo-populis/chayanovian bahwa struktur sosial masyarakat desa ditentukan oleh bekerjanya sistem ekonomi yang khas (a specific type of economy) yang kuncinya terletak pada bekerjanya mekanisme “usaha tani keluarga”. Keseluruhan mainstream of thought tersebut sesungguhnya hampir menyepakati dan seolah ingin menandaskan bahwa alam pedesaan kita di masa lalu merupakan sebuah perkampungan yang menyatu dengan napas kehidupan warganya. Adalah tak ubahnya sang gadis cantik yang demikian elok dipandang mata, namun menurut teori struktural yang berpangkal pada filsafat materialisme bahwa ketika puteri cantik nan jelita itu mendapat sentuhan ciuman beracun dari pangeran tampan sang aktor korporatif, maka seketika itu juga alam pedesaan kita mengalami dinamika sosial dan perubahan budaya dengan berbagai problemtika dan implikasi sosialnya.
Page Count:
243
Publication Date:
1900-01-01
ISBN-10:
6234662412
ISBN-13:
9786234662412
No comments yet. Be the first to share your thoughts!