
<p> </p><p>“Naura….” Peluk ibunya. Ia merasa sangat tenang di peluk ibunya. Terasa hangat. Hatinya yang tadi membeku mulai mencair.</p> <p>“Mengapa kau lakukan itu Nak?” tanya ibunya mulai berlinang air mata. Belum melepaskan pelukannya.</p> <p>Naura hanya menggeleng. Dilihatnya sosok ayah dan pria itu. Ya, pria itu. Pria yang menyelamatkan hidupnya dari percobaan bunuh diri gilanya. Pria yang ... baru saja mengutarakan cinta kepadanya.</p> <p>“Siapa kau?” Naura bertanya pada pria itu. Pria itu mulai mendekatinya.</p> <p>“Naura, ini Rey. Tetangga kita. Sudah sebulan ini kita bertetangga dengannya.” Terang ayahnya memperkenal-kan Rey kepadanya.</p> <p>Memang selama ini Naura tak pernah tahu dengan tetangga di lingkungan rumahnya. Sudah sebulan ini Naura mendadak menjadi fobia berat. Ia tinggalkan aktivitasnya di luar rumah. Apalagi semenjak ia tahu akan penyakitnya. </p> <p>Rey hanya tersenyum. Naura menunduk. </p> <p>“Naura, berjanjilah pada ibu dan ayah, bahwa kau tidak akan pernah melakukan hal gila ini lagi. Berjanjilah Nak, Ibu dan ayah sangat menyayangimu. Ibu harap kau mengerti Nak. Ibu dan ayah tak ingin kehilanganmu Nak,” kata ibunya sambil melepaskan pelukan. Duduk di samping Naura dan membelai rambutnya. </p> <p>Naura hanya terdiam. Ia berpikir mengapa orang tuanya merahasiakan penyakit yang di deritanya? Bukan-kah percuma saja ia hidup jika tak lama lagi ia akan mati juga?</p>
Page Count:
150
Publication Date:
2018-01-27
No comments yet. Be the first to share your thoughts!